Selasa, 21 Januari 2014

Usulan Dua Model Pengiriman Surat PT Pos Australia Diprotes

Usulan Dua Model Pengiriman Surat PT Pos Australia Diprotes

Rencana PT. Pos Australia mengenakan biaya tambahan untuk jasa pengiriman surat ditolak sejumlah kalangan pebisnis dan penyedia jasa sosial. Mereka menilai kebijakan itu akan memberatkan masyarakat berpendapatan rendah dan juga mereka yang tinggal di  kawasan regional.

Dalam survey online tahunan baru-baru ini, PT. Pos Australia meminta para pelanggannya memilih dua opsi pengiriman surat, yaitu surat mereka dikirimkan tiga kali dalam sepekan atau bersedia membayar biaya tambahan sebesar AUD$ 30 atau sekitar Rp.300.000 per tahun untuk jasa pengiriman surat tersebut.

Dewan Layanan Sosial di Australia Selatan mengatakan banyak orang tidak mampu menanggung beban tambahan biaya lagi.

"Pengiriman surat itu sangat penting dan masih menjadi layanan yang mereka andalkan terutama bagi warga berpendapatan rendah yang sudah dibebani terlebih dahulu oleh tekanan biaya hidup,” kata juru bicara lembaga tersebut, Ross Wommersley.

"Kelompok warga ini sangat b ergantung kepada layanan dari Pos Australia untuk mengirimkan tidak cuma berbagai tagihan tapi juga hal lain yang membantu mempermudah urusan mereka. Karenanya memberlakukan biaya tambahan atas pengiriman surat-surat itu akan sangat  membebani keuangan mereka,” katanya.

Penolakan juga diungkapkan kalangan pebisnis. Ketua Kamar Dagang NSW, Damian Kelly mengatakan dua opsi yang ditawarkan Pos Australia akan sangat berdampak pada dunia usaha.

“Jika jadi diterapkan, pasti akan banyak menyulitkan dunia usaha, memang tidak sampai menghentikan bisnis masyarakat, tapi sudah pasti akan memperlambat,” katanya.

"Terutama bagi kawasan pedesaan di Australia, dan regional New South Wales  tempat saya berasal, dampak kebijakan ini akan sangat dramatis bagi sejumlah bisnis yang masih mengandalkan ongkos kirim dan jasa ongkos kirim."

 Pos Australia merugi jutaan dolar

Menanggapi protes ini, dalam pernyataannya PT. Pos Australia mengatak an kalau survey yang mereka lakukan hanya sekedar menjajaki pendapat para pelanggan saja. Dan belum tentu akan menjadi kebijakan resmi perusahaannya di masa mendatang.

"Kita memahami kalau kebutuhan pelanggan kami telah berubah, karenanya setiap tahun kita bertanya kepada pelanggan mengenai pelayanan yang mereka harapakan,” katanya.

"Kami juga memandang penting pendapat masyarakat mengenai pelayanan yang kami berikan,” katanya lagi.

PT. Pos Australia mendistribusikan lebih dari 93 juta surat setiap minggunya, Namun saat ini harus menanggung kerugian jutaan dolar pendapatannya dari sektor jasa pengiriman surat tradisional.

Meski demikian kondisi ini cukup diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan di sector pengiriman barang yang terus meningkat.

Bisnis pengiriman surat Pos Australia juga terus terdesak oleh semakin berkurangnya ketergantungan terhadap kertas dan meningkatnya perdagangan dan ekonomi online di internet.

Lembaga konsumen Aus tralia mengatakan sebagai pelanggan masyarakat tidak boleh dibebankan pada kondisi keuangan yang dihadapi PT. Pos Australia.

"Jasa pengiriman surat merupakan pelayanan negara terhadap masyarakat, karenanya kita sangat prihatin jika ke depan kualitas pelayanan ini akan dikurangi,” kata juru bicara lembaga tersebut Angela Cartwright.

"Kita memahami tantangan yang dihadapi Pos Australia, tapi tidak berarti jawaban agar PT. Pos Australia tetap meraup laba adalah dengan  mengurangi kualitas layanan yang diberikan pada masyarakat.”

Cartwright mengatakan banyak warga masih bergantung pada pengiriman surat setiap hari.

"Sebelum mayoritas masyarakat benar-benar beralih ke komunikasi elektronik, PT.  Pos Australia benar-benar menyediakan layanan penting yang penting bagi banyak orang Australia," katanya.



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate
Tribunnews.com - Internasional

0 komentar :

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls