Minggu, 19 Agustus 2012

Malaikatpun Menjabat Tangannya



Suatu ketika, sahabat sekaligus sekretaris Rasulullah SAW Hanzhalah RA bertemu dengan mertua Rasulullah yaitu Bakar RA. Abu Bakar  menanyakan keadaannya, "Bagaimana kabarmu hari ini wahai Hanzhalah?." Tanya Abu Bakar. Beliau menjawab, "Hanzhalah telah berbuat nifak." "Subhanallah, Maksud saudara, apa?," tanya Abu Bakar keheranan. "Begini," jelas Hanzalah, "saat saya di dekat Rasulullah SAW, ngaji di samping beliau, iman saya terasa naik drastis. Kita selalu menyebut-nyebut surga, neraka, seakan-akan keindahan surga nampak di depan mata, dan kengerian neraka tersaksikan saat itu. Sehingga semangat untuk ibadah menggebu-gebu."
"Namun kalau saya sudah balik ke rumah saya, bertemu dengan perdagangan dan sanak-keluarga; anak-istri, saya tertawa ria, bersenda gurau dengan mereka." Abu Bakar menimpali, "Kalau itu yang kami maksud dengan nifak, kami pun melakukannya. Mari temui Rasulullah ."

Kedua sahabat ini menemui Rasulullah SAW. Abu Bakar  berkata, "Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah berbuat nifak." Rasulullah bertanya, "Apa yang Engkau maksud." Hanzhalah menjelaskan, "Wahai Rasulullah, kami bersamamu, Engkau mengingatkan tentang surga dan neraka, sehingga kami merasakan surga dan neraka itu kami saksikan dengan mata kami. Namun, jika kami berpisah denganmu, kami disibukkan oleh istri-istri
anak-anak dan perdagangan. Kami jadi lupa wejangan Rasul."
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Demi Dzat jiwaku berada di tangan-Nya, andaikan semua keadaan kalian seperti saat bersama denganku dan selalu dalam keadaan berdzikir. niscaya, para malaikat akan menjabat tangan
kalian di atas tempat tidur maupun di jalan­jalan kalian. Namun, wahai Hadzalah, sesaat dan sesaat." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya ini sangat cocok untuk direnungi setelah melalui bulan yang penuh barokah, Ramadhan. Momentum penyubur keimanan pada di bulan ini banyak, kemudahan untuk berdzikir sangat terasa.
Walaupun tidak sama kadarnya, mungkin perasaan itulah yang pernah dirasakan oleh sahabat Hadzalah dan Abu Bakar saat-saat bersama dengan Rasulullah SAW. Mendengar nasehat beliau, hati menjadi khusyu', menatap wajahnya membuat semangat berkorban di jalan Allah berkobar, sejuknya pandangan beliau membuat jiwa terasa nyaman.
Namun berselang dua atau tiga minggu setelah Ramadhan semangat ibadah itu terasa begitu mengendor, terkikis habis, bahkan pada sebagian orang mungkin berganti semangat mengu mpu I kan dunia atau —na'udzu billah­berganti semangat untuk berbuat kemaksiatan.
Jika pada bulan Ramadhan, qiyamullail yang disebut tarawih, bisa di laksanakan selama 29 hingga 30 malam dengan ringan. Minimal 11 rekaat tiap malam. Di luar Ramadhan, jangankan 11 rekaat, serakaat witir saja mungkin orang yang bisa melakukannya dibilang sukses. Jika pada bulan Ramadhan, tilawah al-Qur'an bisa dilakukan kontinyu tiap hari selama satu bulan penuh dengan batas minimal satu juz, maka diluar Ramadhan bisa dibilang langka. Bahkan seperempat juz perhari di luar Ramadhan sesuatu yang sangat sulit.

Demikian halnya    dengan   ibadah‑ibadah lain, seperti shalat dhuha, shadaqah
dan selainnya. Semuanya begitu mudah Dilaksanakan    pada         bulan        Ramadhan.
Berbeda jika waktunya diluar Ramadhan, melaksanakannya dengan kontinyu (dianggap prestasi yang mengagumkan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim-nya, menjelaskan, "terkadang ada saat­saat semangat untuk beribadah dan terkadang ada saat semangat itu mengendor."

Pengurai Benang Taqwa
Momentum keimanan memang sangat ma­hal. Sebagaimana yang dirasakan oleh sahabat Hanzhalah dan Abu Bakar, momentum untuk menaikkan level iman ke derajat yang lebih tinggi, salah satunya melalui persahabatan dan pergaulan secara kontinyu dengan manusia shalih, yaitu Rasulullah
Ramadhan adalah salah satu momentum iman. Ia hanya datang sekali dalam setahun. Ia adalah madrasah untuk meningkatkan level iman, mengasah jiwa.

lbarat tukang sulam, Ramadhan adalah alat terbaik untuk menyulam kain taqwa. Ada banyak benang yang tersedia. Benang Ramadhan itu bernama puasa, qiyamullail —tarawih-, shadaqah, tilawatul qur'an, dzikir, silaturrahim, memberi nasehat. Inilah benang­benang yang bila disulam serta dirangkai dengan baik dan serius, akan membentuk kain taqwa yang terbaik. Sehingga salah tujuan puasa la'allakum tattaqun —agar kalian bertaqwa- terwujud.
Seringkali, ba'da Ramadhan, sulaman benang yang berwujud taqwa tersebut diurai­kan satu persatu.
Maksudnya, satu-persatu benang Ramadhan tadi ditinggalkan oleh seorang muslim, tidak ada lagi shalat berjama'ah secara rutin, tidak ada lagi qiyamullail, tidak ada lagi sedekah, dan tilawatul qur'an menjadi sesuatu yang berat ba'da Ramadhan.

Malam takbiran, begitu asyiknya takbiran dan seriusnya mempersiapkan pakaian dan jajanan lebaran, qiyamullail yang sudah 29 malam menjadi rutinitas mulai ditinggalkan. Satu benang taqwa terurai.
Karena sibuknya silaturrahim ke rumah keluarga maupun kenalan, shalat berjama'ah Zhuhur maupun Ashar yang sudah 29 hari dikerjakan secara kontinyu dengan sadar ditinggalkan. Benang taqwa kedua juga terurai.

Malam harinyakarena kecapekan dan tentu karena kekenyangan juga, ia tertidur hingga subuh menjelang. Sehingga al-Qur'an yang biasanya dikerjakan di masjid bersama jama'ah masjid terlewatkan. Untuk ketiga kalinya, benang taqwa yang terbentuk pada bulan Ramadhan itu terurai lagi.
Mungkin, kain taqwa yang sempat tersulam pada bulan Ramadhan tidak berbentuk lagi setelah tiga empat hari atau seminggu kemudian. Ia hanya menjadi onggokan benang yang tidak terawat lagi.
Perbuatan ini tidak jauh beda dengan se­orang wanita idiot yang tinggal di Makkah zaman
jahiliyah. Karena rasa kecewanya yang besar terhadap suaminya yang mengkhianati dirinya, ia memerintahkan pembantu-pembantunya
menyulam kain yang bagus. Jika datang waktu sore,
ia menguraikan lagi benang­benang yang sudah berbentuk kain tersebut.
Demikian yang ia lakukan terus-menerus. Allah berfirman,"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,"(An-Nahl: 92)

Momentum keimanan itu telah berlalu. Benang-benang taqwa telah berwujud kain taqwa. Masa-masa yang tersisa hingga Ramadhan tahun depan adalah waktu untuk menjaga kain taqwa ini agar tetap utuh.
Sekecil apapun amal untuk menjaga keutuhan taqwa ini, harus diusahakan. Walau tidak lagi mampu qiyamullail 11 rekaat semalam, tilawah satu juz sehari, maka lima rekaat dan setengah juz setelah Ramadhan pun tidak masalah, asalkan dilakukan dengan kontinyu dan ikhlas.Rasulullah SAW bersabda:
"Amal yang disukai oleh Allah adalah yang paling kontinyu, walau sedikit kadarnya." (HR Bukhari dan An-Nasa'i)Tentu, jika banyak dan mampu menjaga kontinyuitas-nya lebih disukai oleh Allah_





langganan artikel

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls